IMUNISASI

Imunisasi bisa dikatakan sebagai investasi kesehatan masa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah dibandingkan mengobati seseorang apabila jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit.


Imunisasi merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular khususnya Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) yang diberikan kepada anak sejak masih bayi, remaja, hingga dewasa. Cara kerja imunisasi yaitu dengan memberikan antigen bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan merangsang sistem imun tubuh untuk membentuk antibodi. Antibodi yang terbentuk setelah imunisasi berguna untuk menimbulkan/ meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif sehingga dapat mencegah atau mengurangi akibat penularan PD3I tersebut.

Imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang paling murah karena terbukti dapat mencegah dan mengurangi kejadian sakit, cacat, dan kematian akibat PD3I yang diperkirakan 2-3 juta kematian setiap tahunnya. Dalam Undang-undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi dan pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak.

Setiap negara mempunyai program imunisasi yang berbeda, tergantung prioritas dan keadaan kesehatan di masing-masing negara. Penentuan jenis imunisasi didasarkan atas kajian ahli dan analisa epidemiologi atas penyakit- penyakit yang timbul. Di Indonesia, program imunisasi mewajibkan setiap bayi (usia 0-11 bulan) mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang terdiri 1 dosis hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-Hib, 4 dosis polio tetes, dan 1 dosis campak.

Apasaja perbedaan dari masing-masing imunisasi tersebut?

  1. Imunisasi Hepatitis B (HB)
    Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis B, yang bisa menyebabkan kerusakan pada hati.
    Waktu pemberian: Dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 bulan, lalu saat 3 - 6 bulan.
    Catatan khusus: Jarak antara pemberian pertama dengan kedua minimal 4 minggu.
     
  2. Imunisasi BCG
    Manfaat: Mencegah penyakit tuberkulosis atau TB (bukan lagi disingkat TBC), yaitu infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis.  Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang.
    Waktu pemberian: Sejak bayi lahir.
    Catatan khusus:  Bila ibu ketinggalan dan umur si kecil sudah lebih dari 3 bulan, harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Uji ini untuk mengetahui apakah di dalam tubuh anak sudah terdapat bakteri penyebab TB atau tidak. BCG baru bisa diberikan, bila uji tuberkulin negatif.
     
  3. Imunisasi DPT
    Manfaat: Mencegah tiga jenis penyakit, yaitu Difteri (infeksi saluran pernapasan yang disebabkan  bakteri), Tetanus (infeksi bakteri pada bagian tubuh yang terluka), dan Pertusis (batuk rejan, biasanya berlangsung dalam waktu yang lama). 
    Difteri adalah penyakit serius yang menyebabkan kesulitan bernafas, masalah jantung, kerusakan saraf, pneumonia, dan mungkin kematian. Tetanus adalah penyakit serius yang menyebabkan kejang-kejang dan kejang otot yang parah yang dapat cukup kuat untuk menyebabkan patah tulang dari tulang belakang. Pertusis adalah penyakit serius yang menyebabkan batuk parah yang dapat mengganggu pernafasan. Pertusis juga dapat menyebabkan pneumonia, bronkitis, kejang, kerusakan otak dan kematian.
    Waktu pemberian: Pertama kali diberikan saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Pemberian selanjutnya pada usia 4 dan 6 bulan. 
    Catatan khusus: 
    - Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Pada usia 12 tahun, vaksin ini diberikan lagi, biasanya di sekolah.
    - Kebanyakan bayi akan mengalami demam pada sore hari setelah imunisasi DPT, tetapi demam akan turun dan hilang dalam 2 hari. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, dan akan sembuh dengan sendirinya. Bila gejala tersebut tidak muncul, tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan, dan imunisasi tidak perlu diulang.
     
  4. Imunisasi Haemophilus Influenzae tipe B HiB
    Manfaat: melindungi tubuh dari penyakit meningitis, pneumonia dan epligotitis.
    Waktu pemberian : anak-anak usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12-15 bulan.
     
  5. Imunisasi Polio
    Manfaat: Melindungi tubuh terhadap virus polio, yang menyebabkan kelumpuhan.
    Waktu pemberian: Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya, vaksin ini diberikan tiga kali, yakni saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan.
    Catatan khusus: Pemberian vaksin ini harus diulang (boost) pada usia 18 bulan dan 5 tahun
     
  6. Imunisasi Campak
    Manfaat: Melindungi anak dari penyakit campak yang disebabkan virus.
    Waktu pemberian: Pertama kali diberikan saat anak umur 9 bulan. Campak kedua diberikan pada saat anak SD kelas 1 (6 tahun).
    Catatan khusus: Jika belum mendapat vaksin campak pada umur 9 bulan, anak bisa diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, Rubella) di usia 15 bulan.

 

Namun ternyata dalam masyarakat kita masih ada mitos tentang vaksinasi/ imunisasi, yaitu

  1. Mitos : kombinasi vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan) dan vaksin polio menyebabkan sndrom kematian bayi mendadak (Sudden Infant Death Syndrome/ SIDS).
    Fakta : namun hal ini hanya kebetulan terjadi dalam waktu yang berdekatan.
     
  2. Mitos : Vaksin memiliki beberapa kerugian dan efek samping jangka panjang yang belum diketahui. Vaksinasi bahkan bisa fatal.
    Fakta : Vaksin itu aman. Kebanyakan reaksi vaksin bersifat minor dan sementara, seperti nyeri pada tempat penyuntikan atau lengan atau demam ringan. Masalah kesehatan serius atau berat sangat jarang terjadi dan diinvestigasi dan dimonitor secara ketat. Orang-orang jauh lebih berisiko untuk sakit parah akibat terinfeksi penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin daripada karena divaksin. Sebagai contoh, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan, campak dapat menyebabkan radang otak dan kebutaan, dan beberapa penyakit lainnya bahkan dapat menyebabkan kematian. Sementara sakit berat atau kematian akibat vaksin hanya terjadi 1 dari sekian banyak, lebih banyak keuntungan yang didapat karena divaksinasi daripada kerugiannya, dan banyak kesakitan dan kematian akan terjadi tanpa vaksin.
     
  3. Mitos : jika kita hidup sehat, bersih dan sanitasi lingkungan baik maka tidak perlu dilakukan vaksinasi.
    Fakta : Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi dapat menyerang kembali apabila program vaksinasi dihentikan. Sementara perbaikan kebersihan, cuci tangan, dan air bersih dapat membantu melindungi kita dari penyakit infeksi, banyak penyakit infeksi yang tetap menyebar seberapa pun bersihnya seseorang. Jika orang-orang tidak divaksinasi, penyakit yang tidak biasa ditemukan seperti campak dan polio , dapat dengan cepat timbul kembali.
     
  4. Mitos : Memberikan lebih dari 1 vaksin dalam waktu yang bersamaan dapat meningkatkan risiko timbulnya efek samping yang berbahaya, yang dapat membebani sistem imun anak tersebut.
    Fakta : Bukti ilmiah menunjukkan bahwa memberikan beberapa vaksin pada waktu yang bersamaan tidak berpengaruh buruk pada sistem imun anak tersebut. Anak-anak yang terpapar oleh beberapa ratus zat asing yang dapat memicu respons imun setiap hari.

 

Sumber :

  1. Situasi Imunisasi Di Indonesia, Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2016.
  2. http://patient.info/health/bcg-immunisation
  3. http://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/diphtheria-tetanus-and-acellular-pertussis-vaccine-intramuscular-route/description/drg-20071366
  4. http://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/hepatitis-b-vaccine-intramuscular-route/description/drg-20068700
  5. http://www.vaccines.gov/diseases/hib/
  6. http://www.vaccines.gov/diseases/polio/
  7. http://www.vaccines.gov/diseases/chickenpox/index.html
  8. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/apa-saja-fakta-dan-mitos-tentang-vaksinasi