Pentingnya Mental Ibu Pasca Melahirkan

Seringkali kita abai soal kondisi mental seorang Ibu pasca persalinan. Padahal banyak sekali Ibu yang setelah melahirkan terkejut dengan perubahan yang terjadi pada hidupnya sehingga mempengaruhi kesehatan mentalnya. Seberapa penting sih mental Ibu pasca persalinan?


Memiliki seorang anak adalah suatu hal yang membahagiakan bagi setiap orang tua karena hal tersebut adalah momen yang sangat ditunggu dan diharapkan. Pada situasi ini seharusnya kondisi mental ibu cukup sehat, baik, dan memiliki rasa bahagia menyambut si buah hati. Akan tetapi, ternyata saat ini kondisi mental seorang ibu bisa berbeda-beda dikarenakan oleh berbagai faktor. Kondisi mental yang kurang baik pasca persalinan ini bisa menyebabkan gangguan mental. Mari kita kenali secara dini apa itu trauma pasca persalinan dan juga melakukan upaya-upaya pencegahan supaya tidak mengalami trauma pasca persalinan.

Selama masa nifas, sekitar 85% wanita mengalami beberapa jenis gangguan suasana hati. Sebagian besar gejalanya bersifat ringan dan hanya terjadi dalam jangka pendek saja. Namun, 10 - 15 % wanita mengalami gejala depresi atau kecemasan yang lebih signifikan. Dalam hal ini, ada 3 macam gangguan mental pasca persalinan, yaitu:

  1. Baby Blues
  2. Depresi pasca persalinan
  3. Psikosis

 

Baby Blues

Baby blues merupakan suatu kondisi trauma pasca persalinan yang paling ringan. Menurut kajian, 4 dari 5 wanita yang melahirkan mengalami baby blues syndrome. Karena hal ini umum terjadi, banyak orang menganggapnya sebagai pengalaman normal setelah melahirkan daripada masalah mental. Seorang ibu yang mengalami baby blues sering mengalami ketidakstabilan suasana hati, menangis, cemas atau mudah tersinggung. Gejala ini biasanya memuncak pada hari keempat atau kelima setelah melahirkan dan dapat berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Setelah itu, gejala akan hilang secara spontan dalam dua minggu setelah melahirkan.

Kondisi baby blues tidak ada jaminan dialami hanya pada persalinan pertama, kedua, ataupun ketiga saja. Jika persalinan anak pertama mengalami baby blues, belum tentu di persalinan berikutnya juga akan mengalami. Begitupun sebaliknya, Jika anak pertama tidak mengalami baby blues, belum tentu juga anak kedua tidak akan mengalami. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah hormon, faktor stress, serta kehamilan yang tidak diingingkan.

Faktor Hormon

Banyak perubahan hormon yang terjadi pada wanita dari mulai awal kehamilannya. Dimulai dari hormon estrogen dan progesterone sehingga hal ini juga mempengaruhi suasana hati yang berubah-ubah.

Faktor Stress

Rasa khawatir berlebihan yang timbul bisa menjadikan wanita mengalami stress apalagi jika ini adalah persalinan pertama, biasanya wanita akan mengalami ketakutan berlebih mengenai kondisi bayi, dan pikiran mengenai situasi setelah persalinan.

Kehamilan yang tidak diinginkan

Kehamilan yang tidak diinginkan juga bisa terjadi di dalam pernikahan. Seperti ekonomi pasangan yang belum siap untuk punya anak, jarak anak pertama dengan kehamilan selanjutnya masih terlalu dekat, atau bahkan si ibu yang memang sudah tidak ingin memiliki anak kembali.

 

Jangan Self-Diagnose!

Meskipun menjadi ibu baru menjadi merasa lelah dan stress pasca persalinan, perlu diketahui juga apa saja ciri-ciri dari baby blues supaya tidak terjadi diagnosa pada diri sendiri , diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Perubahan suasana hati yang cepat
  2. Lebih cepat merasakan lelah dan capek
  3. Gampang tersinggung dengan omongan orang lain
  4. Mudah cemas, murung, sedih, dan gampang nangis
  5. Hilang selera makan
  6. Susah konsentrasi
  7. Susah ambil keputusan

Jika memang  merasakan satu atau lebih dari ciri-ciri di atas, sebaiknya segera beritahu suami atau keluarga terdekat lainnya supaya baby blues tidak menjadi lebih parah dan jadi depresi.

 

Depresi Pasca Persalinan

Apabila masalah baby blues tidak teratasi, maka akan muncul rasa putus asa dan masuk ke dalam tahap kedua yaitu depresi pasca persalinan.

Depresi pasca persalinan muncul selama dua hingga tiga bulan pertama pasca melahirkan. Beberapa wanita sebenarnya sudah timbul gejala depresi yang lebih ringan selama kehamilan. Gejala depresi pasca persalinan meliputi: merasa tertekan atau sedih, kehilangan minat pada aktivitas biasa, perasaan bersalah, perasaan tidak berharga atau tidak kompeten, kelelahan gangguan tidur ,perubahan nafsu makan, konsentrasi yang buruk , bahkan sampai muncul pikiran untuk bunuh diri.  Jika hal ini sudah muncul dan tidak kunjung teratasi, maka bisa berlanjut sampai psikosis.

Suami juga bisa mendukung istri dengan saling membantu dan berbagi tugas rumah tangga supaya istri tidak merasakan beban. Jika situasi semakin tidak tertolong sebaiknya istri segera mendapatkan pertolongan psikolog/psikiater.

 

Psikosis

Psikosis sudah termasuk ke dalam gangguan jiwa. Ini merupakan bentuk paling parah dari penyakit kejiwaan pasca persalinan. Psikosis dapat terjadi pada 1 hingga 2 per 1000 wanita setelah melahirkan.

Dalam banyak kasus, psikosis pasca persalinan bisa dikategorkan sebagai penyakit bipolar. Gejala psikosis bisa muncul dalam waktu 48 hingga 72 jam pertama setelah melahirkan. Adapun gejala awalnya adalah kegelisahan, lekas marah, dan insomnia. Kemudian bisa muncul gejala lainnya seperti perasaan tertekan atau gembira yg berubah dengan cepat, disorientasi atau kebingungan, dan perilaku yang tidak menentu atau tidak teratur. Jika situasi semakin memburuk, maka bisa menimbulkan delusi dan halusinasi seolah ada bisikan yang meminta mereka agar menyakiti dirinya sendiri atau bayinya.

Psikosis harus segera mendapatkan penanganan yang serius karena sudah termasuk kedalam gangguan jiwa.

 

Upaya Pencegahan Depresi

Ada hal penting yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit kesehatan mental pasca persalinan.

Kehamilan yang diinginkan

Pasangan suami istri juga bisa mengalami kehamilan yang tidak diinginkan seperti jarak umur anak terlalu dekat, tidak adanya kesiapan ekonomi, dan belum ada rencana memiliki anak. Oleh karena itu pentingnya menjadikan kehamilan adalah suatu hal yang memang direncakan/diinginkan agar terhindar dari depresi pasca persalinan

 

Usia Ideal

Berdasarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) umur ideal untuk menikah bagi perempuan, yakni 21 tahun atau lebih. Jika dibawah usia tersebut sudah menikah dan hamil, dikhawatirkan belum adanya mental yang matang dan siap sehingga bisa mengakibatkan depresi pasca persalinan.

Jika kedua hal tersebut tidak bisa dihindari, maka perlu dilakukan beberapa cara supaya kesehatan mental ibu pasca melahirkan tetap terjaga. Adapun cara-cara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Perbanyak Waktu Istirahat
  2. Meminta Dukungan Orang Lain
  3. Mengonsumsi Makanan Sehat dengan Gizi Seimbang
  4. Berbicara dengan Orang-Orang Terdekat
  5. Memperbanyak Quality Time dengan Pasangan

 

Nah itu dia penjelasan mengenai pentingnya mental Ibu pasca persalinan. Semoga Sahabat Viva bisa menjalani fase pasca persalinan yang membahagiakan ya!

 

 

Download Aplikasi Viva Apotek dan raih banyak diskon menarik  https://vivaapotek.page.link/apps.

Viva Apotek Official Store juga sudah tersedia di Tokopedia, Shopee, Blibli, dan Bukalapak dengan banyak program Cashback.

Jika Sahabat Viva memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan kirimkan melalui layanan tanya jawab Kesehatan melalui SMS Hotline atau Whatsapp di nomor 0812 919 08500

Kunjungi juga akun Instagram VivaHealthIndonesia https://www.instagram.com/vivahealthindonesia/ untuk melihat jadwal kegiatan Viva Apotek di kota Anda, informasi kesehatan, dan promo menarik lainnya Viva Apotek.

  Belanja Sekarang