WASPADA GANGGUAN KESEHATAN SELAMA PUASA PADA PENDERITA DIABET

Mengapa penderita diabetes perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk menjalankan puasa? Terdapat beberapa resiko gangguan kesehatan yang meningkat karena perubahan pola makan saat berpuasa.


Puasa pada bulan Ramadan merupakan puasa yang dilakukan kurang dari 24 jam. Saat puasa, kadar glukosa darah akan turun sehingga dapat menyebabkan peningkatan resiko terjadinya komplikasi. Pada suatu penelitian yang melibatkan lebih dari 12 ribu pasien diabetes di 13 negara dengan mayoritas penduduk beragam Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadan menunjukkan tingginya angka komplikasi akut. Potensi resiko utama pada penderita diabetes yang berpuasa adalah:

Hipoglikemi saat berpuasa
Hipoglikemi merupakan kondisi dimana tubuh mengalami penurunan kadar gula dalam darah hingga dibawah rentang normal. Kurangnya asupan makanan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipoglikemi. Diperkirakan hipoglikemi merupakan penyebab kematian pada 2-4% pasien diabetes tipe 1. Angka kejadian terjadinya hipoglikemi pada pasien diabetes tipe 2 lebih rendah dibandingkan dengan diabetes tipe 1. Hasil penelitian EPIDIAR menunjukkan bahwa puasa Ramadan dapat meningkatkan resiko hipoglikemia berat. Hipoglikemi di bulan Ramadan  dapat meningkat 4,7 kali lipat pada penderita diabetes tipe 1 dan 7,5 kali lebih sering pada penderita diabetes tipe 2.

Hiperglikemi saat berpuasa
Hiperglikemi merupakan kondisi dimanat tubuh mengalami peningkatan kadar gula dalam darah hingga diatas rentang normal. Sebuah studi EPIDIAR pada penderita diabetes tipe dua menunjukkan bahwa pada bulan Ramadan, angka kejadian hiperglikemi berat meningkat. Hiperglikemi kemungkinan disebabkan pengurangan dosis obat secara berlebihan untuk menghindari hipoglikemi serta konsumsi makanan berlebihan.

Ketoasidosis
Penderita diabetes, terutama pasien diabetes tipe 1 yang menjalankan puasa Ramadan dan memiliki kadar gula tidak stabil maka dapat memiliki resiko ketoasidosis dapat meningkat. Peningkatan resiko terjadinya ketoasidosis dapat terjadi akibat pengurangan dosis insulin.

Dehidrasi dan trombosis
Pembatasan asupan cairan yang berlangsung selama puasa dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi dapat terjadi pada orang yang melakukan kerja fisik yang berat dan berada di wilayah dengan iklim atau suhu udara panas dan kelembapan tinggi. Hiperglikemi dapat menyebabkan diuresis osmotik sehingga dapat meningkatkan kekurangan cairan serta elektrolit.

Apakah yang perlu diperhatikan?
Pemantauan kadar gula darah
Melakukan pemeriksaan kadar gula dalam darah setiap hari sangatlah penting. Hal ini terutama untuk penderita diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 yang menggunakan insulin.
Asupan nutrisi
Selama bulan Ramadan sering terjadi perubahan besar dalam asupan nutrisi. Sebagian besar masalah kesehatan di bulan Ramadan merupakan akibat dari pola makan yang tidak tepat, kelebihan konsumsi makan, atau kurang tidur. Peningkatan konsumsi karbohidrat dan lemak pada saat berbuka puasa merupakan perubahan pola makan yang sering terjadi selama Ramadan.
Aktifitas fisik
Aktifitas fisik yang normal mungkin masih bisa dilakukan. Namun, aktifitas fisik seperti berolahraga perlu dihindari karena dapat meningkatkan resiko hipoglikemi. Berolahraga dapat dilakukan sesudah berbuka puasa.
Menghentikan puasa
Penderita diabetes harus memahami bahwa puasa harus segera dihentikan bila terjadi:

Sumber:

  1. American Diabetes Association. (2010, Agustus). Recommendations for Management of Diabetes During Ramadan. Diperoleh 05 Juni 2018 dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2909082/
  2. PERKENI. 2015. DM Tipe 2 oada Individu Dewasa di Bulan Ramadan. Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Malang.