BAHAYAKAH PENGGUNAAN MICIN PADA MAKANAN?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa MSG tidak memiliki efek negative pada sistem saraf pusat otak.


Monosodium glutamate (MSG) atau yang biasa disebut dengan micin merupakan bentuk garam dari asam glutamate. Micin umumnya digunakan sebagai penambah rasa hampir pada seluruh jenis makanan yang diolah. Namun, ternyata tubuh manusia secara alami juga memiliki asam glutamate dan pada beberapa makanan juga terdapat asam glutamate secara alami seperti pada tomat dan keju.

Apakah MSG itu dan amankah untuk dikonsumsi?
MSG berasal dari asam amino glutamate atau asam glutamate yang merupakan salah satu bentuk asam amino. Glutamat adalah salah satu asam amino non-esensial yang berarti tubuh manusia dapat memproduksinya. MSG aman digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan. Namun, dengan dosis atau takaran yang wajar.

Apakah reaksi yang terjadi jika mengalami kelebihan atau sensitive terhadap MSG?
Berikut beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi:

Mitos dan fakta tentang MSG
MSG dapat menyebabkan terjadinya reaksi alergi
Fakta: MSG merupakan bahan tambahan makanan yang paling umum digunakan. American College of Allergy, Asthma, and Immunology menyatakan bahwa MSG bukan merupakan bahan pemicu alergi (allergen).

MSG dapat menyebabkan kerusakan otak
Fakta: Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa MSG tidak memiliki efek negative pada sistem saraf pusat otak. MSG memiliki dosis tersendiri dimana ketika makanan ditambah terlalu banyak MSG akan menyebabkan rasa makanan berkurang kelezatannya.

MSG dapat menyebabkan sakit kepala atau migraine
Fakta: MSG bukan merupakan pemicu terjadinya sakit kepala bahkan pada dosisi tertingginya.

MSG dapat menyebabkan obesitas
Fakta: Menurut penelitian, tidak ada hubungan antara konsumsi MSG dan penambahan berat badan bahkan pada orang yang konsumsi MSG dalam dosis tinggi.

MSG adalah bahan berbahaya bagi tubuh
Fakta: Pada dasarnya MSG aman digunakan pada jumlah yang wajar. Pada dosis tinggi seperti konsumsi sebanyak 6-30 kali rata-rata dosis harian dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan. Pada beberapa orang yang mempunyai keluhan setelah konsumsi MSG, maka perlu menghindari konsumsi MSG. Namun pada orang yang merasa baik-baik saja setelah mengkonsumsi, maka dapat tetap mengkonsumsinya. MSG umumnya terdapat dalam makanan cepat saji atau olahan. Jika seseorang melakukan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat, maka konsumsi MSG akan dengan sendirinya berkurang.

Jika Sahabat Viva memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan kirimkan melalui:

  1. Layanan Tanya Jawab Kesehatan melalui SMS Hotline atau Whatsapp di nomor 0812 919 08500
  2. Konsultasi Online pada hari Senin-Jumat pukul 08.00-17.00 WIB

Pertanyaan anda akan dijawab langsung oleh tenaga kesehatan kami. Kunjungi juga akun Instagram @vivahealthindonesia, Fanpage VivaHealthIndonesia dan Twitter@vivahealthID untuk melihat jadwal kegiatan Apotek Viva di kota Anda dan info kesehatan lainnya.

Sumber:

  1. US Food and Drug Administration. (2012, 19 November). Question and Answers on Monosodium Glutamate (MSG). Diperoleh 20 Oktober 2017 dari https://www.fda.gov/food/ingredientspackaginglabeling/foodadditivesingredients/ucm328728.htm
  2. Healthline. (2017, 24 Januari). MSG (Monosodium Glutamate): Good or bad. Diperoleh 20 Oktober 2017 dari: https://www.healthline.com/nutrition/msg-good-or-bad#section1
  3. International Glutamate Information Service. Myths vs Facts About MSG Side Effect and Safety. Diperoleh 20 Oktober 2017 dari: https://glutamate.org/safety/myths-versus-facts-about-msg-side-effects/
  4. Mayo Clinic. (2015, 13 Maret). What is MSG? Is It Bad For You. Diperoleh 20 Oktober 2017 dari: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/monosodium-glutamate/faq-20058196