KENAPA SUDAH SEKOLAH TAPI MASIH MENGOMPOL?

Mengompol bukan merupakan kesalahan anak. Salah satu penyebab mengompol pada malam hari adalah karena tingkat stress pada anak atau karena anak mengalami ketakutan.


Sudah sekolah kok masih ngompol?

Mengompol merupakan masalah umum yang dapat terjadi pada anak-anak, namun dapat berhenti seiring bertambahnya usia tanpa menggunakan pengobatan. Lalu bagaimana jika diusia sekolah anak masih mengompol? Apakah ada yang salah?

Mengompol atau dalam bahasa medis disebut dengan nocturnal enuresis merupakan kondisi dimana anak-anak buang air kecil dimalam hari ketika sedang tidur. Mengompol pada usia dibawah lima tahun masih dianggap sebagai hal wajar atau normal. Namun umumnya orang tua berharap anaknya akan berhenti mengompol ketika menginjak usia 3 tahun.

Terdapat dua kondisi nocturnal enuresis yang dapat terjadi pada anak-anak, yaitu :

Apakah yang menyebabkan anak-anak mengompol?
Pada umumnya tidak ada penyebab khusus pada anak. Mengompol bukan merupakan kesalahan pada anak. Hal ini terjadi karena volume urin yang diproduksi pada malam hari melebihi kemampuan kandung kemih untuk menampung urin. Sensasi atau rasa yang timbul ketika kandung kemih penuh tidak dapat membangunkan anak ketika tidur. Namun seiring dengan bertambahnya usia, produksi urin pada malam hari berkurang dan anak-anak akan menjadi peka ketika kandung kemihnya mulai penuh. Sehingga masalah mengompol pada malam hari akan berangsur membaik.

Terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk kondisi mengompol anak. Beberapa faktor resiko tersebut meliputi :

Penyebab medis yang dapat meningkatkan resiko terjadinya mengompol jarang terjadi, misalnya seperti infeksi saluran kencing, mengalami sleep apnea karena jalan nafas yang terhambat, diabetes, dan gangguan pada kandung kemih.

 

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter?
Umumnya anak-anak dapat menghentikan kebiasaan mengompol dengan usaha sendiri. Namun, pada beberapa kasus seorang anak membutuhkan bantuan dari tenaga medis. Berikut beberapa kondisi yang memerlukan bantuan dokter :

 

Bagaimana penanganan mengompol pada anak agar dapat teratasi?
Saat anak di usia sekolah masih mengompol kebanyakan orang tua akan memarahi bahkan ada yang membuat hal tersebut menjadi bahan olok-olokan di depan teman dan saudaranya. Mungkin tujuannya baik, untuk memotifasi sang anak agar tidak mengompol lagi. Namun perlu diketahui bahwa justru tindakan seperti itu tidak akan memberikan hasil yang baik. Bahkan dapat merusak mental sang anak. 
Berikut ini adalah beberapa langkah yang perlu dilakukan: 

  1. Melatih anak dengan menggunakan popok
    Pada anak-anak yang sudah beranjak besar tetapi masih menggunakan popok, tetapi pada pagi hari popok tetap kering dapat menjadi motivasi untuk anak. Langkah selanjutnya adalah melatih anak untuk tidak menggunakan popok pada malam hari. Jika percobaan ini tidak berhasil maka pada malam selanjutnya perlu memberikan popok pada anak dan mencoba lagi dikemudian hari.
     
  2. Tetap bersabar pada anak
    Ketika usaha yang dilakukan untuk memberi pengertian pada anak dan mengajari anak untuk tidak mengompol tetap belum memberikan hasil maka perlu memberi jeda pada anak. Orang tua dapat mencoba beberapa bulan kemudian hingga sukses.
    Tidak dianjurkan untuk menghukum anak karena mengompol. Karena hal tersebut bukan merupakan kesalahan anak. Sebaliknya, orang tua perlu memuji anak ketika terjadi perubahan walaupun sedikt. Berusaha mengerti kondisi emosional anak karena salah satu penyebab mengompol adalah terjadinya stres atau ketakutan.
     
  3. Memberi penjelasan kepada anak
    Ketika anak-anak sudah mulai bertambah usia maka orang tua dapat memberikan penjelasan sederhana pada anak. Penjelasan sederhana pada anak dapat membantu proses berhentinya mengompol.
     
  4. Mengajari anak untuk dapat bertanggung jawab
    Ketika anak sudah berusia sekitar lima tahun maka orang tua dapat memberikan dorongan pada anak agar dapat membantu menjaga agar kasur tetap kering. Hal ini dapat mendorong anak untuk termotivasi bangun dari tidur ketika memiliki keinginan untuk buang air kecil.
     
  5. Menghilangkan rasa takut anak
    Memastikan anak untuk tidak takut ketika malam hari. Tetap membiarkan lampu kamar dan kamar mandi untuk tetap menyala untuk membantu mengurangi rasa takut anak.
     
  6. Membatasi jumlah minuman
    Membatasi jumlah minuman anak tidak memberikan pengaruh pada kebiasaan mengompol. Anak hanya perlu dibatasi asupan minumanya sekitar 2-3 jam sebelum tidur. Menghindarkan anak dari minuman yang mengandung kafein dapat membantu agar kebiasaa mengompol tidak menjadi buruk.
     
  7. Memberikan hadiah
    Tujuan dari usaha yang dilakukan adalah agar anak tidak mengompol dan pergi ke toilet ketika ingin buang air kecil. Ketika anak dapat pergi ke toilet untuk buang air kecil pada malam hari maka orang tua dapat memberikan hadiah. Orang tua dapat menggunakan metode menempelkan bintang pada kalender ketika anak tidak mengompol. Ketika dalam periode tertentu anak lulus dengan tidak mengompol maka orang tua memberikan hadiah. Hal ini dapat memberikan motivasi bagi anak agar dapat melakukannya setiap hari.

Kata-kata yang diucapkan orang tua tanpa disadari akan dapat membentuk karakter anak. Sehingga memberikan kata-kata positif pada anak-anak dapat membantu mereka untuk berkembang menjadi lebih baik.

Jika Sahabat Viva memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan kirimkan melalui:

  1. Layanan Tanya Jawab Kesehatan melalui SMS Hotline atau Whatsapp di nomor 0812 919 08500
  2. Konsultasi Online pada hari Senin-Jumat pukul 08.00-17.00 WIB

Pertanyaan anda akan dijawab langsung oleh tenaga kesehatan kami. Kunjungi juga akun Instagram @vivahealthindonesia, Fanpage VivaHealthIndonesia dan Twitter@vivahealthID untuk melihat jadwal kegiatan Apotek Viva di kota Anda dan info kesehatan lainnya.

 

Sumber :

  1. Mayo Clinic. (2014, 11 Oktober). Bed-wetting. Diperoleh 27 Maret 2017 dari : http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bed-wetting/basics/symptoms/con-20015089
  2. Patient. (2017, 28 Februari). Bed-wetting (Nocturnal Enuresis). Diperoleh 27 Maret 2017 dari : https://patient.info/health/bedwetting-nocturnal-enuresis